Pembenahan Distribusi Gas Elpiji 3 Kg untuk Warga Miskin

Gas elpiji 3 kg (gas melon) yang jelas-jelas tertulis khusus untuk rakyat atau warga miskin tetapi dalam kenyataannya malah banyak dikonsumsi kalangan menengah ke atas.

Belakangan ini persoalan gas elpiji kembali mencuat ke permukaan.

Mengikuti wacana yang berkembang di media arus utama menunjukkan bahwa kebijakan baru segera diberlakukan, terutama menyangkut pencabutan harga subsidi dan rencana pembenahan penyaluran gas elpiji 3 kg yang selama ini tidak sesuai peruntukannya.

harga eceran elpiji 3 kg yang seharusnya Rp16.000 s/d Rp 20.000 per-tabung manakala terjadi kelangkaan harganya bisa dua kali lipat, bahkan bisa lebih, dan hanya pihak-pihak tertentu yang diuntungkan dalam memanfaatkan momen tersebut.

Berapapun jumlah kuota ditambah untuk menutupi kelangkaan, tetap saja tidak mampu bahkan selalu menimbulkan masalah.

Justru permainan kalangan tertentu memanfaatkan tambahan kuota untuk memetik profit sebesar-besarnya.

Kasus demikian selalu saja terjadi bahkan belum pernah ada solusi nyata.

Kalaupun ada operasi pengawasan terhadap distribusi atau penyaluran gas elpiji (3 kg), terutama yang dikonsumsi kalangan mampu secara ekonomi dan operasi terhadap elpiji oplosan, ternyata dalam perjalanannya tak banyak menyelesaikan masalah.

Subsidi tidak lagi diberikan pada harga barang tetapi langsung pada masyarakat yang berhak menerima subsidi.

Dengan demikian, harga jual elpiji kemasan 3 kilogram akan disesuaikan dengan harga pasar (Kompas, 15 Januari 2020, halaman 13).

Kebijakan baru yang hendak diputuskan pemerintah ini pastinya layak diapresiasi.

Hal ini sebagai langkah responsif sekaligus antisipatif terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan berulang yang dilakukan pihak tertentu, terutama menyangkut distribusi/penyaluran dan ketentuan harga gas elpiji 3 kg sehingga warga miskin bisa terjamin kebutuhannya.

Pentingnya data yang valid dalam upaya pemberian subsidi tertutup terhadap rakyat miskin tentu akan menghindari terjadinya salah sasaran seperti yang selalu terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Dilibatkannya Tim Nasional Penanggulangan Kemiskinan diharapkam mampu memberikan informasi faktual, jika memang perlu juga bisa melibatkan perguruan tinggi sehingga pendataan orang miskin benar-benar akurat.

Sumber : kompasiana

You May Also Like

megazio [Harja Group]

About the Author: megazio [Harja Group]