Kilas Balik: Mereka Butuh Kau Hanya Sesaat Saja

Rantauprapat – Gerimis Siang ini membuat aktifitas sedikit terganggu, waktu telah menunjukkan angka 14.30 Wib (9/7/2020).

Iseng aku buka lembar sejarah tentang perburuhan di Negeri ini dari jaman penjajahan, Orde Lama, Orde Baru dan reformasi sekarang ini.

Lelah membaca akhirnya aku menemukan sebuah kesimpulan untuk membandingkan jaman/ era per era, ternyata perlakuan yang paling buruk kepada Buruh terjadi di masa ordebaru dan reformasi sekarang ini.

Buruh tidak lagi tampil sebagai penentu kebijakan pemerintah seperti pada masa era orde lama,dijaman ordelama Serikat Buruh hampir seluruhnya bagian atau underbownya partai Politik, sehingga sangat banyak buruh yang duduk di parlemen yang ikut merumuskan, menentukan dan memutuskan arah dan kebijakan pemerintah.

Ilustrasi

Sebaliknya di era ordebaru tepatnya dimulai pada tahun 70 an, dengan kebijakan Pemerintah Soeharto seluruh organisasi Serikat Buruh dibubarkan dan yang dibenarkan berdiri hanya satu organisasi Serikat Buruh dan Buruhpun dilarang untuk berpolitik, padahal hak berpolitik ini adalah bagian dari hak asasi.

Pecahnya reformasi pada tahun 1998 dan terbitnya Undang-Undang No.21/2000 tentang Serikat Buruh yang disahkan oleh Presiden Republik Indonesia ABDURAHMAN WAHID pada tanggal 04 Agustus 2000, ternyata tidak melepaskan rantai belenggu Organisasi Serikat Buruh untuk ikut dalam politik praktis, artinya kebebasan Buruh untuk terlibat langsung dalam kancah politik dengan membawa serta organisasinya tetap diperkosa oleh Negara.

Dari sini jelas dapat diketahui bahwa Pemerintah tidak pernah mengganggap keberadaan Buruh, walau secara nyata dan tidak bisa dipungkiri bahwa Buruh merupakan salah satu elemen penentu perputaran roda ekonomi dan salah satu penyumbang devisa bagi negara.

Buruh diperlukan hadir keberadaannya ketika para elit saling berebut kekuasaan pada kancah Pemilihan Bupati, Gubernur, Legislatif dan Presiden, untuk mendapatkan simpati dan empati agar memilihnya.

Sayangnya para kaum proletar ( kaum Buruh) di Negeri ini sampai sekarang tidak pernah Cerdas meski sudah berulang-ulang dikibulin dan dibutuhkan hanya sesaat.

Tidak pernah mau bercermin pada masa lalu meski hari ini nyata diperlakukan tidak adil, sewenang-wenang dan harus berjuang sendiri untuk atau demi kelayakan dan kesejahteraan hidupnya.

Tidak pernah sadar bahwa para elit yang dahulu dipilihnya hanya tersenyum dan mengintip dari jendela kaca gedung mewah yang berkata “Nasib orang bodoh yang mau kubodohi dan kuperdayai” ketika Buruh melakukan aksi jalanannya.

Memilih atau tidak memilih pada setiap pemilu adalah hak dari setiap individu Buruh, dan tidak ada sanksi hukumnya kalaupun Buruh tidak memilih.

Untuk apalah memilihnya kalau akhirnya mereka hanya bisa mengintip dari balik jendela kaca menyaksikan Buruh aksi.

Untuk apa hadir kalau hanya untuk dimanfaatkan saja dan dijadikan objek kepentingan sesaat

“Sebentar lagi tiba waktu Sholat Ashar, “Selamat menjalankan ibadah Sholat untukmu semua saudaraku yang melaksanakannya”

Penulis Siswanto Bangun

You May Also Like

megazio [Harja Group]

About the Author: megazio [Harja Group]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.