Ming. Agu 25th, 2019

Megazio.com

Berita Hari Ini, Kabar Update dan Terpercaya

Jiwa Pemberontak Bung Karno

  •  
  •  
  •  
  •  

Dalam rapat pleno tahunan yang diadakan oleh ‘Jong Java’ cabang Surabaya pada bulan Februari 1921, Soekarno mendapat giliran untuk berceramah mengenai sistem pendidikan.

Ia memulai ceramahnya dalam bahasa Jawa Dipa (Ngoko), yang oleh Soekarno dianggap sebagai bahasa ‘Kaum Pembaharu’.

Ketua rapat segera menghentikan ceramah Soekarno itu, dan setelah terjadi perdebatan sebentar, lalu dimintanya agar Soekarno melanjutkan ceramahnya dalam bahasa Belanda, karena Ketua menolak juga penggunaan bahasa Kromo.

Tetapi permintaan itu ditolak Soekarno, dan setelah terjadi perdebatan sengit, akhirnya bubar dalam suasana kacau, ditengah-tengah teriakan-teriakan, sorak sorai dan musik gamelan.

Peristiwa lain yang tak kalah hiruk pikuknya, terjadi sebulan kemudian ketika Bung Karno mengusulkan agar surat kabar Jong Java diterbitkan dalam bahasa Melayu saja, bukan bahasa Belanda.

Bahasa Melayu waktu itu dikenal sebagi bahasa kasar, khususnya di telinga para priyayi Jawa.

Memang, dengan sepak terjangnya yang selalu kontroversial, cenderung melawan arus dan kasar itu, dalam perhimpunan Soekarno selalu dijuluki sebagai Bimo.

“Dengan Tuhan sekalipun Soekarno berbicara dalam bahasa Jawa Ngoko”, tulis sebuah stensilan Utusan Hindia, yang terbit tahun 1921.

Keterangan:
Bahasa Jawa Ngoko: Bahasa Jawa kasar.
Bahasa Jawa Kromo: Bahasa Jawa Halus.
Foto, Bung Karno waktu lulus dari sekolah HBS (setingkat SLTA).
Sumber, Religi dan Religiusitas Bung Karno-Bambang Noorsena.