By | September 28, 2018

Baru-baru ini beredar kabar di sosial media mengenai wanita yang terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) setelah melakukan treatment wajah atau facial. Ahli hematologi Prof DR Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM, mengaku belum pernah menemukan kasus serupa.

“Untuk facial, sampai sekarang saya belum pernah menemukan pasien yang terindikasi HIV karena perawatan wajah. Tapi kalau memang ada, mungkin itu disebabkan oleh alat yang digunakan tidak higienis,” ujarnya saat ditemui pada acara Seminar Kesehatan PMI di Kantor Walikota Jakarta Timur, Kamis (27/9/2018).

BACA JUGA :  Roni Bodax, Kisah Sosok Pria Pendakwah Penuh dengan Tato

Prof Zubairi menjelaskan, kemungkinan tertular HIV saat facial memang ada namun risikonya sangat kecil mengingat bahwa virus bisa mati dengan sendirinya jika berada di ruang terbuka.
“Kalau perawatan wajah menggunakan jarum suntik mungkin bisa terjadi, tapi penularannya sangat jarang karena tubuh itu juga punya imunitas. Kalau hanya sedikit virus yang masuk itu tidak akan terjangkit (HIV),” jelas Prof Zubairi.

BACA JUGA :  Sri Mulyani : Menganggarkan Dana THR Sebesar Rp 20 triliun, Baru Cair Rp 10 Triliun

“Beda kalau misalnya melakukan tato. Itu risikonya lebih besar dan sudah banyak yang terinfeksi,” lanjutnya.

Terkait pengakuan soal penularan HIV lewat facial yang viral di media sosial tersebut, Prof Zubairi menyarankan untuk selalu berhati-hati dalam memilih salon kecantikan. Selalu perhatikan sertifikasi dari penyedia layanan serta pastikan alat yang digunakan bersih dan steril.

BACA JUGA :  Siapa Dalang dibalik Tragedi 22 Mei, Polisi Akan Cari Penyandang Pendana

“Tanya sama salon atau kliniknya, kalau pakai jarum suntik yang disposable (sekali pakai) nggak? Kalau tidak, jangan mau perawatan di situ,” tutupnya.
sumber: detik.com