By | Mei 10, 2019

Gus Miftah namanya kian santer di tanah air, Gus Miftaim An’am alias Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah mengaku menjadi pendakwah karena kecelakaan sejarah.

Suatu hari, khatib Jumat yang diundang berhalangan hadir. Sebagai pengurus masjid, dia diminta menggantikannya.

Ternyata banyak anggota jemaah yang terpikat oleh gayanya berkhotbah

“Sejak itulah saya mulai lebih intens belajar menjadi penceramah,” kata Gus Miftah, yang pernah nyantri di Pesantren Pembangunan Bustanul Ulum Jayasakti, Lampung Tengah; dan Nurul Huda, Sragen.

BACA JUGA :  Perbuatan Yang Dapat Mengurangi Pahala Puasa Hingga Membatalkan Puasa

Belakangan, selain berceramah ke berbagai daerah di Tanah Air, dia kerap diundang untuk berdakwah ke Hong Kong, Korea, beberapa negara Eropa, hingga Amerika.

Meski begitu, sebagai orang yang pernah hidup susah, Miftah tak melupakan kelompok masyarakat yang pernah senasib dengan dia di masa lalu.

Seiring dengan namanya yang kian populer, perlakuan para pengundang kepadanya pun beragam.

Ada yang pernah menjemputnya dengan helikopter dan mobil mewah, pernah juga dia harus melintasi sungai dengan getek.

BACA JUGA :  Warga Kapuas Keracunan Makan Saat Bukber di Masjid Nurul Istiqamah

“Itulah seni dan romantika juru dakwah. Itu risiko orang berdakwah,” kata Gus Miftah, yang pernah kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga.

Sebab, dia tak menganggap menjadi menjadi juru dakwah sebagai profesinya, tapi dia bertekad profesional melakoninya.

Dengan begitu, dia tidak mau disebut sebagai orang yang mencari pendapatan dari dakwah.

“Karena tidak pernah memasang tarif, terkadang ada yang memberi banyak, tapi ada juga yang sedikit.

Ada juga yang cukup memberi 3M (matur nuwun Mas Miftah) atau 7,5 M (pitulungan setengah mekso),” tutur Miftah diiringi derai tawa.

BACA JUGA :  Roni Bodax, Kisah Sosok Pria Pendakwah Penuh dengan Tato

Kalaupun kemudian sekarang ini dia tampak berkecukupan, punya rumah dengan halaman luas serta membangun masjid dan pesantren dengan seratusan santri dan santriwati, Miftah menyebut hal itu sebagai berkah dakwah.

“Itu semua bukan hasil dari dakwah, tapi berkah dari dakwah,” ujarnya.

Ia sengaja menampung para santri yang sebagian di antaranya anak-anak jalanan, punk, dan mantan preman sebagai bagian dari rasa syukurnya. 

Sumber : detik.com